Tampilkan postingan dengan label budidaya pangan utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya pangan utama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 November 2014

VARIETAS JAGUNG TERBARU


VARIETAS JAGUNG TERBARU
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting selain gandum dan padi. Jagung juga merupakan sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, Jagung merupakan komoditi yang dapat dijadikan sebagai bahan pangan alternatif penganti beras. Dibeberapa daerah penduduk Indonesia seperti Madura dan Nusa Tenggara menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), minyak, tepung dan bahan baku industri. Selain itu jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.
Pada tahun 2013 yang lalu, Balai Penelitian Tanaman Serealia, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah mengaluarkan beberapa varietas jagung terbaru diantaranya yaitu:
1.      Jenis Jagung Komposit (Bersari Bebas)
a.       Pulut Uri-1.
b.      Pulut Uri-2
Kedua jenis jagung varietas ini dilepas pada tahun 2013, jagung ini merupakan koleksi atau Plasma nutfah lokal dari Sulawesi Selatan, yang merupakan hasil dari persilangan jagung lokal Takalar dengan populasi Ms2 dan dilanjutkan dengan metode persilangan backcross sebanyak empat kali dan dilanjutkan dengan seleksi massa positif. Kedua varietas jaging ini memiliki kemiripan seperti: batangnya besar dan kokoh, warna batang hijau tua, umur panen 85 hst, keseragaman tanaman mencapai 95-98%, sistem perakarannya kuat, warna anthera krem, malainya semi kompak, warna glume hijau, rambut 90% krem kemerahan, , kedudukan tongkol ± 85cm (berada dipertengahan batang), kelobotnya menutupi tongkol dengan baik, biji berwarna putih, jumlah baris/tongkol 14-16 baris, baris antar biji agak lurus dan rapat.
Sedangkan untuk umur berbunga betina varietas pulut uri-1 adalah 50 hst, dan pulut uri-2 adalah 51 hst, tinggi tanaman varietas pulut uri-1 sekitar 177 cm sedangkan pulut uri-2 175 cm, bentuk tongkolnya sama yaitu besar kerucut, panjang tongkol pulut uri-1 mencapai 16cm, sedangkan pulut uri-2 hanya 15 cm, tipe biji pada pulut uri-1 adalah dent dengan bobot 1000 biji 356 g, rata-rata hasil 7,8 t/ha, namum sebenarnya jagung varietas pulut uri-1 ini memiliki potensi hasil mencapai 9,4 t/ha.  sedangkan tipe biji pada pulut uri-2 adalah flint dengan bobot 1000 biji mencapai 347 g, rata-rata hasil 7,3 t/ha berupa pipilan kering, namun sebenarnya jagung varietas pulut uri-2 ini memiliki potensi hasil mencapai 9,2 t/ha yang berupa pipilan kering. Selain itu keistimewaan jagung variatas ini adalah  agak tahan terhadap penyakit bulai (Peronosclerospora philipinensis L).
2.      Jagung Hibrida
Jagung hibrida adalah varietas jagung yang dikembangkan melalui persilangan dua induk dengan ciri-ciri tertentu, dengan menggunaakan metode persilangan galur murni, sehingga hasil persilangan terakhir menunjukkan ciri-ciri keunggulan tertentu.
Adapun jagung hibrida yang keluar baru-baru ini diantaranya adalah :
a.       Bima-17
Dilepas pada 26 Maret 2013, yang merupakan hasil persilangan antara galur murni CML421 sebagai tetua betina dengan galur murni Nei9008P sebagai tetua jantan. Umur keluar bunga jantan  50 hst, umur keluar rambut + 52 hst, umur masak fisiologis + 95 hari, keragaman tanaman seragam, tinggi tanaman mencapai +203 cm, batangnya tegak, kuat, berwarna hijau dan tahan rebah. Bentuk malainya sedang dan tegak, warna sekam (glume) hijau dengan antosianin lemah, warna malai (anthera) ungu, warna rambut hijau kemerahan, sistem perakarannya kuat, bentuk tongkolnya panjang dan silindris, kedudukan tongkol berada dipertengahan tinggi tanaman, kelobotnya menutup rapat. Tipe biji semi mutiara dengan warna kuning orange, baris biji lurus dan rapat, jumlah baris/tongkol 14-16 baris, bobot 1000 biji + 325 gram. Rata-rata hasil adalah 11,8 t/ha padahal potensi hasil dapat mencapai 13,6 t/ha. Adapun kandungan yang terdapat pada jagung varietas ini diantaranya yaitu: karbohidrat 65,2%, protein 16,5%, lemak  9,6%.
Jagung varietas ini tahan penyakit bulai (Peronosclerospora maydis L.) toleran penyakit karat daun (Puccinia sorgi) dan penyakit bercak daun (Helminthosporium maydis). Keunggulan Utamanya yaitu memiliki potensi hasil tinggi, tahan rebah batang dan akar, rendemen tinggi, ukuran tongkol besar dan hasilnya stabil pada lingkungan luas.


b.      Bima 18
Dilepas pada 26 Maret 2013, merupakan hasil persilangan antara galur murni CML421 sebagai tetua betina dengan galur murni Nei9008P sebagai tetua jantan (CML421 x Nei9008P). Ciri-ciri fisik dari jagung varrietas ini sama persis dengan jagung varietas Bima 17, yang membedakan dari kedua jenis jagung varietas ini terletak pada kandungan protein + 15,7%, lemak + 11,2%, dan yang terpenting yang menjadi pembeda adalah jagung varietas Bima 18 ini dapat beradaptasi baik pada lingkungan yang sub optimal (marginal).
c.       Bima 19-URI (STJ107)
Dilepas pada tahun 2013, yang merupakan hasil persilangan antara hibrida silang tunggal G193//Mr14 sebagai tetua betina dengan galur murni Nei9008P sebagai tetua jantan (G193/Mr14 x Nei9008P). Pada umur 56 hst 50 % pollen keluar dan 58 hst 50% keluar rambunt, umur panen (masak fisiologi) + 102 hari setelah tanam. Keragamannya seragam, tinggi tanaman + 213 cm, batang berbentuk bulat dengan diameter + 2,3 cm, berwarna hijau dan tahan rebah.
Ukuran daun lebar dengan pola helai semi tegak, bentuk malai kerapatan bulir jarang dengan tipe percabangan yang agak bengkok, warna sekam (glume) hijau dengan antosianin sangat ringan, warna malai (anthera) kuning muda dengan semburan orange, warna rambut hijau kekuningan (green-yellow), sistem perakaran kuat. Panjang ukuran tongkol +17,9 cm dengan diameter + 4,9 cm, kedudukan tongkol berada dipertengahan tinggi tanaman, kelobotnya menutup dan agak rapat, memiliki tipe biji semi mutiara yang berwarna kuning orange, baris antar biji lurus dan rapat, jumlah baris/tongkol 14-16 baris, bobot 1000 biji + 343 g rata-rata hasil10,6 t/ha dengan potensi hasil : 12,5 t/ha. Dengan kandungan protein + 15,41%, lemak + 11,98%, karbohidrat 58,60%.
Keungulan tahan penyakit bulai (Peronosclerospora maydis L.), Penyakit karat daun (P. sorgi) dan penyakit hawar daun (Helminthosporium maydis), memiliki potensi hasil tinggi, toleran kekeringan, tahan rebah akar dan batang dan dianjurkan tanam pada musim kemarau di lahan sawah atau lahan kering.



d.      Bima 20-URI (STJ109)
Dilepas tahun 2013, hasil dari persilangan antara hibrida silang tunggal G180//Mr14 sebagai tetua betina dengan galur murni Nei9008P sebagai tetua jantan (G180/Mr14 x Nei9008P)
Umur keluar pollen + 56 hst, keluar rambut + 58 hst, masak fisiologis + 102 hari setelah tanam. Keragaman tanaman seragam dengan tinggi tanaman +210 cm, diameter batang + 2,2 cm, bentuk bulat, berwarna hijau dan > 5% tahan rebah.
Ukuran daunya lebar dengan pola helai semi tegak, berwarna hijau. Bentuk malai memiliki kerapatan bulir jarang dengan tipe percabangan yang agak bengkok, warna sekam (glume) hijau dengan antosianin sangat ringan, warna malai (anthera) kuning muda dengan sedikit orange, warna rambut hijau muda kekuningan dengan ujung merah,sistem perakarannya kuat. Dengan panjang ukuran tongkol +17,9 cm dan diameter + 4,9 cm, kedudukan tongkol berada dipertengahan tanaman, dengan kelobot menutup dengan baik. Tipe bijinya semi mutiara

Denganwarna kuning orange, baris biji membentuk silindris dengan jumlah baris/tongkol 14-16 baris dan bobot 1000 biji mencapai + 339 gram. Rata-rata hasil panen 11,0 t/ha dengan potensi hasil panen mencapai 12,8 t/ha. Jagung varietas ini memiliki kandungan protein + 15,01%, lemak + 9,55%, dan karbohidrat 68,56%. Keungulan tahan terhadap penyakit bulai (Peronosclerospora maydis L.), penyakit karat daun (Puccinia sorgi) dan penyakit hawar daun (Helminthosporium maydis) memiliki potensi hasil tinggi, sesuai dikembangkan pada lahan kering di musim kemarau, tahan rebah akar dan batang dan hasilnya stabil pada lingkungan yang luas.

Sabtu, 15 November 2014

Makalah Prospek Pangan Utama

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam berupa lahan yang relatif cukup luas dan subur.  Dengan iklim, suhu dan kelembaban yang cocok untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman pangan pokok, maka hampir seluruh tanaman pangan pokok tersebut (biji-bijian, umbi-umbian dan kacang-kacangan) dapat tumbuh dengan relatif baik di Indonesia
Kedelai (Glycine max  (L.) Merr) adalah komoditas  pangan yang sudah lama banyak dibudidayakan di Indonesia, pada saat ini kedelai tidak hanya diposisikan sebagai bahan baku industri pangan, namun juga ditempatkan sebagai bahan baku industri non-pangan. Beberapa produk yang dihasilkan antara lain tempe, tahu, es krim, susu kedelai, tepung kedelai, minyak kedelai, pakan ternak ,dan bahan baku industri. 
Sifat multiguna yang ada pada kedelai menyebabkan tingginya permintaan kedelai di dalam negeri. Selain itu, manfaat kedelai sebagai salah satu sumber protein sehingga kedelai semakin banyak diminati.  Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, permintaan kedelai di dalam negeri meningkat setiap tahunnya.
Menurut  Rahman Pinem, Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian,  kebutuhan kedelai untuk industri tahu tempe cukup tinggi. Setiap tahunnya, rata-rata membutuhkan kedelai sebanyak 2,3 juta ton/tahun, sedangkan produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 800 ribu - 900 ribu ton. Padahal kebutuhan untuk pengrajin tahu dan tempe mencapai 1,6 juta ton (Majalah Dunia Industri, Minggu 24 Juli 2011).
Dalam memproduksi kedelai, pemerintah juga terkendala dengan menyempitnya lahan garapan yang beralih fungsi menjadi lahan pemukiman dan industri, sehingga berdampak negatif pada hasil produksi kedelai nasional. Sehinga untuk memenuhi permintaan kedelai yang terus meningkat, pemerintah menginpor kedelai dari luar negri.

1.2.Rumusan Masalah

1.    Bagamana prospek pemanfaatan kedelai di indonesia dalam berbagai bidang.
2.    Bagaimana cara mengatasi permasalahan yang budidaya kedelai di indonesia.

1.3.Tujuan

Penyusunan makalah ini bertujuan agar pembaca mengetahui bahwa tanaman Kedelai merupakan tanaman multifungsi yang dapat dimanfaatkan, serta mengetahui nilai ekonomis yang dihasilkan dari Kedelai. Selain itu, Kedelai yang berkualitas juga mempunyai potensi dan prospek usaha yang cukup besar dalam peluang dan konsumsinya agar dapat bersaing dengan komoditi lainnya sehingga dapat meningkatkan nilai ekspor kedelai dipasar global.


















BAB II

PEMBAHASAN

2.1.  Prospek Budidaya Kedelai Di Indonesia

2.1.1. Prospek Kedelai dari Sisi Permintaan dan Pengembangan Agribisnis

Dalam sisis permintaan, kedelai memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan secara komersial. Kedelai merupakan komoditas bahan baku industri pengolahan susu kedelai, tahu dan tempe dan produk industri hasil olahan lainnya. Permintaan kedelai selama 15 tahun terakhir sangat tinggi, namun tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri, sehingga harus dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar. Membanjirnya impor kedelai untuk konsumsi, industri dan sebagai bahan baku pembuatan pakan ternak di Indonesia membuktikan bahwa komoditas ini belum bisa dipenuhi dari dalam negeri. Ini berarti peluang besar bagi pelaku agribisnis untuk memanfaatkan potensi kedelai.
Prospek pengembangan kedelai yang dilakukan dalam negeri guna untuk menekan laju impor cukup baik, mengingat ketersediaan sumber daya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok, dan di imbangi teknologi yang cangih, dengan sasaran peningkatan produksi 15%per tahun, sasaran produksi 60% dicapai pada tahun 2009. dan swasembada baru tercapai pada tahun 2015. Di samping itu, pasar komoditas kedelai masih terbuka lebar. Selain itu untuk peningkatan hasil produksivitas diperlukan strategi seperti : perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infra- struktur, serta pengaturan tata niaga dan insentif usaha.
Agar tujuan dan sasaran pengembangan kedelai dapat tercapai maksimal, dukungan dan partisipasi dan kebijakan pemerintah, mulai dari subsistem hulu hingga ke subsistem hilir, komitmen dari stakeholder swasta/pengusaha, penyuluh, serta masyarakat pertanian dalam pengembangan budidaya kedelai sangat diperlukan.
Sehingga kedepannya diharapkan kebutuhan akan kedelai Indonesia dapat di suplay tanpa harus impor dari luar. Untuk mendukung upaya khusus peningkatan produksi kedelai tersebut diperlukan investasi yang sangat besar.

2.1.2. Prospek Industri

Kedelai dapat diolah menjadi berbagai produk, baik produkpangan, obat-obatan, industri maupun pakan. Produk olahan kedelai yang populer di masyarakat dewasa ini adalah produk fermentasi seperti tempe, kecap, tauco, dan produk nonfermentasi seperti tahu, susu, dan daging tiruan (meat analog). Produk fermentasi lain yang populer adalah natto (di Jepang), dan produk nonfermentasi lainnya seperti keju kedelai, yuba dan lain-lain. Produk lainnya dari kedelai adalah minyak kasar, isolat protein, lesitin, dan bungkil kedelai. Minyak kedelai dapat diolah lagi untuk produk pangan dan produk industri. Produk pangan yang menggunakan minyak kedelai antara lain adalah minyak salad, minyak goreng, mentega putih, margarine, dan mayonaise. Isolat protein dan lesitin banyak digunakan dalam berbagai produk industri makanan, antara lain roti-rotian, es krim, yoghurt, makanan bayi (infant formula), kembang gula dan lain-lain. Bungkil kedelai yang mengandung protein tinggi adalah bahan baku penting rangsum ternak (pakan).
Di Indonesia, kedelai lebih banyak digunakan untuk tahu dan tempe. Berdasarkan perhitungan, kebutuhan kedelai untuk tahu dan tempe pada tahun 2002 mencapai 1,78 juta ton atau 88% dari total kebutuhan dalam negeri, sedangkan 12% sisanya untuk berbagai keperluan makanan olahan dan bahan baku industri lainnya.

2.1.3. Prospek Kebijakan Strategis Swasembada

Kelangkaan minyak tanah dipasaran mungkin sudah menjadi hal biasa bagi sebagian kalangan. Namun naiknya harga kedelai dari Rp 3.500/kg menjadi Rp 7.800/kg sungguh merupakan berita besar karena kenaikan ini merupakan yang tertinggi sejak 24 tahun terakhir. Akibatnya ribuan produsen tahu dan tempe diseluruh tanah air gulung tikar. Mereka benar-benar terpukul. Sebagian terpaksa mengurangi jumlah pekerja, memperkecil ukuran dan menurunkan kualitas, menaikkan harga hingga menghentikan produksinya. Tak pelak, perekonomian nasional pun terpukul dalam karena produksi tahu dan tempe ini merupakan produksi menengah kebawah yang cukup banyak menyerap tenaga kerja.
Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih, mengatakan gejolak harga kedelai disebabkan oleh masalah klasik yakni turunnya produksi dalam negeri dan naiknya harga di pasar global. Menurut catatan BPS pada tahun 2006 produksi kedelai nasional mencapai 747.611 ton, pada tahun 2007 turun menjadi 608.263 ton. Di sisi lain, peningkatan impor kedelai naik 6,7 persen setiap tahunnya. Ada banyak penyebab turunnya produksi kedelai nasional diantaranya gagal panen, menciutnya lahan tanaman pangan, dan bencana alam.
Jika kita melihat tingkat kebutuhan kedelai dalam negeri yang mencapai 1,9 juta-2 juta ton per tahun, maka sekitar 70% kebutuhan kedelai bergantung pada impor dari luar negeri. Hal ini praktis menyebabkan naiknya harga kedelai dunia yang saat ini mencapai 100% dari 300 dollar AS per ton menjadi 600 dollar AS per ton, memberikan dampak yang cukup signifikan bagi harga kedelai nasional.
Kebijakan impor yang dominan terhadap produksi nasional ini sesungguhnya justru semakin memperpuruk perekonomian rakyat. Jika kita melihat kembali kebijakan yang dilakukan pemerintah pada tahun 1999, dengan kebijakan pasar bebasnya pemerintah membuka keran impor kedelai dan menurunkan bea masuk. Waktu itu pasar nasional dibanjiri kedelai impor, akibatnya harga kedelai di tingkat petani tertekan, petani banyak yang merugi dan sebagai akibatnya banyak petani yang hengkang dari produksi kedelai.
Kebijakan impor ini akan bertambah rumit ketika partai dan politik ikut menyelimuti perdagangan antar negara.
Keadaan ini diperparah dengan kebijakan pertanian yang keliru. Pemerintah mengutamakan usaha-usaha agrobisnis perkebunan yang berlahan luas seperti kelapa sawit, disisi lain pembangunan tanaman pangan terbengkalai. Sedangkan infrastruktur irigasi tidak digunakan bahkan yang sudah ada pun tidak dipelihara sehingga kuantitas dan kualitasnya menurun. Sementara itu, jumlah lahan pertanian pangan terus menyusut dan tidak dijalankannya pembaruan agrarian. Disamping itu janji pemerintah untuk membagi-bagikan lahan kepada petani melalui Badan Pertanahan Nasional (BPN) tidak ada perwujudannya. Sehingga wajar jika para petani sudah tidak tertarik lagi menanam kedelai karena tidak adanya insentif bagi petani untuk menanam kedelai dan harga kedelai dipasar tidak bisa menutupi ongkos produksi.
Menyangkut solusi gejolak harga kedelai saat ini, memang perlu diadakan operasi pasar untuk menurunkan dan menyetabilkan harga. Untuk sementara waktu, menurut Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI), Ir Nur Hidayat dengan melakukan substitusi bisa diterapkan. Substitusi atau bahan pengganti bisa ditempuh dengan mengkombinasikan antara kacang kedelai impor dengan kedelai lokal. Jika dirasa masih mahal, maka bisa dicari bahan baku lain yang tetap berasal dari kacang-kacangan. Misalnya kacang hijau, koro, isi kacang panjang dan bahkan petai Cina.
Namun secara jangka panjang kita harus berswasembada kedelai karena kedelai yang ada di pasar dunia tidak akan mencukupi kebutuhan Indonesia jikalau produksi nasional terus turun. Untuk mencapai swasembada itu ada tiga hal utama yang harus dilakukan pemerintah, pertama, segera melaksanakan pembaruan agraria. Kedua, membangun infrastruktuir di pedesaan seperti irigasi dan jalan-jalan desa bukan hanya jalan tol saja yang dibangun. Ketiga, tegakkan kedaulatan pangan dengan cara berswasembada dan melepaskan ketergantungan terhadap mekanisme pasar bebas.
Mengenai kebijakan pemerintah yang menurunkan tarif impor dari 10% hingga 0% sesungguhnya takkan mampu memberikan dampak yang signifikan, jika pada kenyataannya impor masih tetap dominan. Yang justru nampak dari kondisi ini adalah kealpaan kebijakan dalam ketahanan pangan. Pemerintah tidak memiliki strategi kebijakan atas produksi dan system komoditas kedelai yang mapan jika menghadapkan petani dengan pasar global. Akhirnya seperti realita saat ini, petani kalah dalam persaingan global yang dibiarkan oleh pemerintah. Jelas saja, karena kemampuan kolektif pemerintah menyiasati kebijakan perdagangan kedelai hanya mengambil jalan pintas yang bebas bersifat liberal yang mematikan potensi petani.

2.2.  Permasalahan Yang Terjadi Di Indonesia

2.2.1. Permasalahan Aspek sistem produksi

Yang menjadi hambatan internal yang teridentifikasi dalam aspek sistem produksi meliputi:
a.       ketersediaan sarana produksi yang makin terbatas,
b.      Sistem penyuluhan masih lemah, dan
c.       Akses petani terhadap sumber modal terbatas.
Ketersediaan benih varietas unggul baru yang masih sangat terbatas ini, sehingga membuat produktivitas hasil kedelai masih rendah. Hingga kini penggunaan varietas unggul baru masih mencapai 20% dan penggunaan benih yang bersertifikat hanya 10%. Benih bersertifikat merupakan jaminan pemerintah. Namun hingga saat ini untuk menyediakan benih bermutu masih sangat rendah, sehingga belum banyak petani yang menggunakan benih bersertifikat. Hal ini dikarenakan jumlah penangkar yang masih sangat terbatas, proses sertifikasi kedelai yang rumit dan keuntungan menjadi penangkar benih kedelai yang sangat kecil. Selain benih bermutu, pupuk dan pestisida makin mahal, sehingga makin tidak terjangkau oleh petani.

2.2.2. Permasalahan Harga Kedelai

Fluktuasi harga kedelei juga berpengaruh terhadap produksi petani. Harga kedele yang terlalu rendah pada saat musim panen akan mengakibatkan keengganan petani untuk memanen. Harga kedelei dapat dipengaruhi oleh fluktuasi harga kedele internasional, dikarenakan sebagaian besar pasokan kedele kita berasal dari impor.
Selama ini harga kedelai dipermainkan importir. Begitu panen raya, kedelai banjir di pasaran sehingga harga anjlok. Akibat turunnya harga membuat petani tak mau memanen kedelainya. Petani kemudian menjadi enggan menanam kedelai lagi. Dampak lanjutan agenda swasembada kedelai yang dicanangkan pemerintah dijamin tidak terwujud akibatnya kita menjadi terus bergantung pada impor.
Solusinya adalah dengan peningkatan system produksi yang baik dan lancar, karena dapat memperbaiki system pemasaran yang ada saat ini. Semakin meningkatknya produksi kedelai maka akan mengakibatkan lonjakan harga kedelai yang lebih stabil. Hal inilah yang memberikan peluang usaha yang lebih baik akan komoditas kedelai.

2.2.3. Pernasalahan Pemasaran

Kendala dan masalah pemasaran kedelai  ini terjadi karena
a.       Produksi kedelai terpusat dalam kantong-kantong kecil yang letaknya saling berjauhan.
b.      Pengendalian mutu sulit diterapkan.
c.       Musim dan kombinasi usaha menyulitkan penilaian ekonomi.
Sistem pemasaran memiliki saling keterkaitan dan ketergantungan dengan sistem produksi. Distribusi produksi yang berada di kantong-kantong kecil menyulitkan efesiensi angkutan dan pemasarannya. Pengembangan sistem pemasaran seharusnya sejalan dengan sistem produksi. Hal ini dikarenakan sistem pemasaran dapat diperbaiki apabila produski meningkat. Meskipun demikian, peningkatan produksi juga tergantung pada ketersediaan layanan sistem pemasaran yang handal.

2.2.4. Permasalahan Pupuk

Hingga kini lemahnya lembaga yang dibentuk oleh pemerintah yang berperan mengawasi distribusi pupuk hingga ke petani. Hal ini mempengaruhi tidak maksimalnya sistem distribusi pupuk. Itulah sebabnya selalu terulang, pupuk menghilang di pasaran ketika petani bersiap-siap memulai musim tanam.
Petani di berbagai wilayah berusaha untuk mendapatkan pupuk. Salah satu contoh yang dialami petani SPI di Jawa Timur, sejak Oktober 2008 lalu pupuk praktis menghilang. Mereka pun akhirnya mengadakan audiensi dengan industri pupuk Indakop. Namun hingga waktu petani membutuhkan pupuk penyediaan pupuk ini tidak terealisasi.
Pencanangan Go-Organic 2010 agar petani lebih mandiri tidak tercermin dari anggaran subsidinya ditahun 2008 yang hanya 474 Milyar untuk pupuk organik dari total subsidi pupuk sebesar 15, 175 Triliun. Padahal salah satu langkah yang terbaik tentu ialah mendukung pengembangan pupuk organik yang dapat dikembangkan sendiri oleh petani. Dukungan pemerintah kearah itu lah yang harus diperbesar. Pengembangan pupuk organik ini selain mengembalikan kesuburan tanah dan membantu meningkatkan produktivitas juga akan sangat berperan dalam membangun kedaulatan petani. Petani dapat menghasilkan pupuk yang dibutuhkannya sendiri.
Untuk menjawab persoalan tersebut, keberadaan Koperasi Unit Desa (KUD) selayaknya berdiri di setiap kepenghuluan. Karena KUD mampu memberikan solusi bagi petani kedelai menyangkut sejumlah permasalahan seperti penyediaan pupuk, stabilitas harga pupuk tidak dipermainkan spekulan seenaknya, dan koordinasi antara pemerintah dan masyarakat petani terkesan lebih bersingergis dengan baik.
Jika KUD berdiri, hal itu semakin memudahkan bagi petani dan selanjutnya mampu meningkatkan efektifitas kerja dan efesiensi waktu sehingga hasil yang diharapkan bisa lebih optimal lagi.

















BAB III

PENUTUP

3.1.Kesimpulan

Untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya, Indonesia masih ha-rus terus melakukan impor yang rata-rata sebesar 40% dari kebutuhan kedelai nasional meningkat dari tahunke tahun, produksi dalam negeri masih relatif rendah dan memiliki kecenderungan terus menurun.  Hal ini menyebabkan ketergantungan akan kedelai impor terus berlangsung dan memiliki kecenderungan terus meningkat.  Puncak impor tertinggi tercatat untuk tahun 1996 sebesar 743 ribu ton, suatu peningkatan impor sebesar 50% dari tahun sebelumnya (496 ribu ton).  Sementara itu angka impor terendah selama kurun waktu tersebut terjadi pada tahun 1993 yaitu sebesar 700 ribu ton.  Secara keseluruhan selama kurun waktu tersebut kecenderungan impor kedelai nasional menunjukkan peningkatan sebesar 8,59%.

3.2.Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini maka direkomendasikan agribisnis kedelai merupakan kegiatan usaha yang menarik dan dapat ditawarkan kepada para investor.













DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka (BAPEPTI) http://www.bappebti.go.id/
Hasanawi Masturi. 2012. Kajian Ekonomi Usahatani Kedelai. Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu : Bengkulu
Kementrian Pertanian http://www.deptan.go.id
Kementrian Perdagangan http://www.depdag.go.id
Pandangan Petani atas Kebijakan Pertanian Pemerintah tahun 2008
Prospek dan arah Pengembangan Agribisnis Kedelai http://203.176.181.70/bppi/lengkap/0107-KEDELAI.pdf



intensifikasi tanaman padi



INTENSIFIKASI PADA TANAMAN PADI
Sebelum mengetahui mengenai intensifikasi tanaman padi alangkah baiknya terlebih dahulu kita memahani pengertian intensifikasi itu sendiri.
Intensifikasi adalah memaksimalkan apa yang sudah ada. Artinya usaha meningkatkan produk hasil pertanian tanpa  menambah objek pertanian (lahan). Intensifikasi pertanian adalah pengolahan lahan pertanian yang ada dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana. Intensifikasi pertanian banyak dilakukan di Pulau Jawa dan Bali yang memiliki lahan pertanian sempit. Pada awalnya proses intensifikasi pertanian ditempuh dengan program Panca Usaha Tani.
Mengapa padi perlu di intensifikasi?
Hal ini terjadi karena sistem pengelolaan budidaya tanaman padi saat ini sering mengalami kesulitan pada penyediaan sarana produksi berupa pupuk. Masalah penyediaan pupuk dikarenakan oleh keterbatasan modal usaha tani dan juga diakibatkan oleh seringnya terjadi kelangkaan pupuk yang berdampak pada harga pupuk menjadi tidak stabil. Hal ini mengakibatkan petani dalam usaha taninya hanya melakukan pemupukan seadanya saja tanpa memperhatikan seberapa banyak jumlah pupuk/dosis pupuk yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman padi sehingga produksi padi menurun.
Dalam hal ini pemerintah juga ikut serta. Adapun upaya pemerintah dalam mengingkakan produksi tanmaan pangan antara lain ditempuh melalui 2 strategi yaitu :
1.    Peningkatan produktivitas yang dilaksanakan melalui Program Peningkatan Mutu Intensifikasi (PMI)
2.    Perluasan Areal Tanam (PAT). Sasaran komoditas PMI adalah tanaman padi, sedangkan sasaran komoditas PAT adalah tanaman palawija, seperti jagung, kacang tanah dan ubi kayu.
Berikut ini proses intensifikasi yang dapat dilakukan pada tanaman padi diantaranya yaitu :
1.      Penyiapan lahan tepat waktu dengan cara yang benar.
Penyiapan dan pengolahan lahan sawah harus bener-benar matang, karena apabila pengolahan lahan tidak benar dapat menghambat proses pertumbuhan baik akar atau anakan padi. Proses pengolahan lahan ini waktunya harus tepat dan disesuaikan dengan persiapan persemaian, guna agar tidak terjadi keterlambatan pada saat pindah tanam. Dalam metode pola tanam SRI dan jajar legowo, waktu yang ideal adalah ketika umur padi 14 hari setelah semai

2.      Penggunaan benih bermutu dan berlabel produksi.
Penggunaan benih merupakan langkah terpenting dalam peningkatan mutu intensifikasi sebab penggunaan benih yang bermutu merupakan penentu awal besar kecilnya produksi.
3.      Tersedianya sarana produksi.
Tersedianya SAPRODI ini sangat menunjang untuk meningkatkan hasil produksi pertanian, seperti bibit, pupuk, pestisida, traktor, transportasi dan alat-alat yang dibutuhkan dalam pertanian.
4.      Pemupukan berimbang.
Untuk memperoleh produksi yang optimal, pemberian pupuk an organik harus dilaksanakan dengan tepat dosis, tepat waktu dan cara aplikasi. Dosisi anjuran pupuk kimia untuk tanaman padi secara umum adalah : Urea 250 kg/ha, SP36 100 kg/ha dam KCl 75 kg/ha. Selain menggunakan pupuk kimia, pemupukan harus di imbangi dengan pupuk organik karena sifat dari pupuk organik ini dapat memperbaiki sifat fisik struktur tanah.
5.      Teknologi. Menginggat produktivitas lahan pertanian yang semakin menurun, pemanfaatan teknologi sangatlah berpengaruh dalam meningkatkan hasil produksi, karena apabila tidak ada terobosan-terobosan teknologi baru maka hasil produksi padi akan terus menurun.
6.      Pengendalian Organisme Penggangu Tanaman (OPT) secara Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
PHT merupakan suatu pendekatan baru dalam pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang memadukan manusia dan lingkungan.
Pada hakekatnya PHT mempunyai 4 prinsip yaitu :
1.      Membudidayakan tanaman sehat
2.      Melestarikan dan mendayagunakan fungsi musuh alami.
3.      Melaksanakan pengamatan mingguan secara teratur dan berkesinambungan.
4.      Petani sebagai ahli PHT. PHT memiliki keuntungan ditinjau dari aspek stabilitas produksi, kesehatan, ekonomi dan lingkungan.
7.      Penggunaan air secara teratur dan efisien.
Dalam budidaya tanaman padi pemberian air dapat digunakan dengan dua cara yaitu pemberian air secara terus menerus (tergenang) dan pemberian air berselang. Namun untuk pola taman SRI dan jajar legowo penggunaan air lebih efesien karena tidak membutuhkan air banyak, dalam arti tanah sawah hanya lembab saja atau macak-macak (tidak tergenang seperti pola tanam konvesional).
8.      Penerapan pola tanam
Dalam penerapan pola tanam ini dapat dilakukan dengan pola tanam SRI atau pola tanam jalur legowo, dimana pola penanaman ini memodifikasi waktu pindah tanam dan jarak tanam sehingga pertumbuhan padi dan sinar matahari yang diterima optimal. Selain itu pola taman disini bisa diartikan sebagai pola pergiliran tanaman seperti pola tanam 2:1 dua musim padi, satu musim palawija.
9.      Perbaikan pascapanen. Hal ini bertujuan untuk menekan kehilangan hasil (terutama padi) pasa saat proses panen dan pascapanen. Beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah :
1.   Cara panen
·      Dalam proses pemanenan biasanya sawah dikeringkan selama 7-10 hari sebelum panen agar kematangan padi lebih merata dan cepat.
·      Alangkah baiknya pemanenan dilakukan pada umur 33-36 hari setelah berbungan merata yaitu apabila 95% malai telah menguling, daun bendera mulai menua dan sebagian kuning/mati. Dan gunakan alat panen yang tajam.
2.   Perontokan dapat dilakukan dengan beberapa cara baik dengan menggunakan alat mesin (power dan pedal theser) maupun manual denga digepyok. Lakukan perontokan pada hari panen untuk menghindari timbulnya butir kuning dan menggunkaan alas yang lebar untuk mengurangi kehilangan.
3.   Pembersihan dilakukan untuk menghilangkan butir hampa dan benda asing lainnya yang ditujukan untuk mengingkatkan mutu gabah.Alat yang digunakan bisa berupa alat tampi maupun dengan menggunakan blower/cleaner. Pembersihan sebaiknya dilakukan setelah perontokan hingga memudahkan pada proses pengeringan.
10.  Harga yang merangsang petani. Maksudnya adalah apabila harga jual gabah mahal maka petani akan bersemangat dalam memproduksi/budidaya padi, dan keadaan ekonomi petani akan meningkat.

Sumber :
Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Jalan KH. Wahid Hasyim 210 Palbapang Bantul 55713 Telp. 0274-367541 tersedia di
(31 Oktober 2014 pukul 22:51)
RRI. 2007. Varietas unggul padi sawah 1943-2007 Informasi Ringkas Teknologi Padi. Rice Knowedge Bank.
IRRI Jatileksono, T. 1987. Equity Achievement in the Indonesian Rice Economy. Yogyakarta. Gajah Mada University Press
LITBANG DEPTAN. 2007. Petunjuk Teknis PTT :Pedoman Bagi Penyuluh Pertanian. Badan Litbang Departemen Pertanian .Jakarta.